Halaman

Minggu, 24 November 2013

Gloria............................................Deogratias...................................
 
Pendahuluan
 
"Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.
Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu
dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.
…Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini."
(Markus 12:29-31)

Dalam Kasih Karunia dan Rahmat Allah Yang Maha Kuasa,
Dengan kepercayaan penuh bahwa Allah senantiasa berkarya dalam sejarah umat manusia dan dengan demikian juga masuk merasuk ke dalam berbagai lapisan kehidupan manusia terutama pada segi budayanya, sehinggap percik-percik Kebenaran dan Kasih Allah dapat hadir nyata disana.
Bangsa Timor-Leste yang demikian kaya akan budaya, kita percaya, telah berziarah untuk mencari Yang Ilahi dengan berbagai macam cara yang sebenarnya mengekpresikan ‘Kerinduan Suci’ untuk bertemu dan mencapai Penciptanya. Kepenuhan akan pencarian suci itu –sebagaimana yang kita imani-- hanyalah dapat digenapi dan mengalami kepenuhan dalam persatuan yang Kudus dengan Yesus Kristus. Sehingga arah dan kebijaksanaan Gereja dalam hal inkulturasi budaya, sebagaimana digariskan dalam Konsili Vatikan II, merupakan jalan yang tepat dan menyentuh langsung pada dimensi kehidupan riil manusia.

Organisasi beladiri THS-THM yang hadir di dunia berkat kasih dan rahmat Allah ini, mencoba dengan rendah hati untuk menjadi setapak bagi berkaryanya Kasih Allah melalui sarana budaya bangsa, Pencak Silat. Setelah darah Kristus yang suci mencuci bersih segala dosa kita, biarlah dengan darah dan Salib-Nya memurnikan cara baru pewartaan iman melalui budaya bangsa, Pecak Silat, sehingga menjadi alternatif bagi meluasnya benih-benih Sabda Allah.
Dalam budaya Pencak Silat, terlebih setelah dimurnikan oleh darah Kristus, terkandung aspek-aspek pembinaan fisik, olahraga, budaya beladiri, kebangsaan, mental, rohani/spiritual dan kesehatan yang diharapkan akan dapat menjadi sarana dan jalan bagi manusia untuk menemukan jatidirinya --secara pribadi dan sosial--dan terutama menemukan siapa dirinya dihadapan Penciptanya.
Menjadi manusia yang sadar akan dirinya di hadapan Allah, tidaklah bisa lepas dari perannya dalam masyarakat dan Bangsa (Timor-Leste).

Dengan demikian mengubah dirinya menjadi garam dan terang dunia yang, kendati kecil, akan dapat memberi arti pada dunia dan tidak lain merupakan kelanjutan dari penghayatan dan cinta akan budaya bangsa, yang adalah sarana persatuan dengan Allah. Tepatlah ungkapan yang mengatakan bahwa “jadilah 100% manusia Katolik dan 100% Warga Negara (Timor-Leste)”.

Semoga Allah Bapa, Allah Putra dan Roh Kudus merestui cara baru penghayatan iman ini. Amin.

Sifat
Kehidupan dan hubungan dalam THS-THM bersifat kekeluargaaan, persaudaraan, kebersamaan dan kesetiakawanan dengan semangat Katolik Roma. 

Visi
Visi THS-THM adalah terciptanya kader Katolik Roma yang sejati. 


Misi
Misi THS-THM adalah :
1. Memuliakan Tuhan Yesus dan Bunda Maria dengan menjadi garam dan terang dunia
2. Mempertahankan iman Katolik Roma dan Ideologi Bangsa RDTL
3. Mengembangkan dan memperkuat komunitas basis di tempat-tempat kegiatan
4. Menjaga dan mengembangkan keberagaman budaya Bangsa

Semboyan
Semboyan THS-THM adalah Pro Patria et Ecclesia yang berarti “Untuk Tanah Air dan Gereja”

Motto

Motto perjuangan THSTHM adalah Fortiter In Re, Suaviter In Modo yang berarti “kokoh kuat dalam prinsip, luwes lembut cara mencapainya”.











Foto bersama anak-anak THS-THM Diosis Dili, ....saat menghadiri misa bersama umat Katolik sedunia merayakan Hari Raya Kristus Raja dan dalam waktu yang sama Diosis Dili menutup Tahun Iman......di Katedral Dili Timor Leste

Tidak ada komentar:

Posting Komentar